新闻是有分量的

澳大利亚akan sampaikan hasil researchasi soal penghinaan Pancasila di bulan Februari

发布时间:2017年1月27日上午9:26
更新时间:2017年1月27日上午10:44

KERJASAMA MILITER。 Panglima TNI,Gatot Nurmantyo(kiri)tengah bersalaman dengan Panglima Angkatan Bersenjata澳大利亚Marsekal Mark Binskin dalam pertemuan Komite Tingkat Tinggi(HLC)ke-3 tahun 2015 di Mabes Cilangkap,Jakarta Timur。 Foto diambil dari situs TNI

KERJASAMA MILITER。 Panglima TNI,Gatot Nurmantyo(kiri)tengah bersalaman dengan Panglima Angkatan Bersenjata澳大利亚Marsekal Mark Binskin dalam pertemuan Komite Tingkat Tinggi(HLC)ke-3 tahun 2015 di Mabes Cilangkap,Jakarta Timur。 Foto diambil dari situs TNI

印度尼西亚雅加达 - Panglima TNI,Gatot Nurmantyo mengatakan proses investigasi terhadap materi pengajaran di akademi militer Australia di Perth masih terus berlangsung。 散文调查rencananya akan dirampungkan oleh Negeri Kanguru pada tanggal 31 Januari。

Sebagai tindak lanjutnya,pada tanggal 8 Februari mendatang,Panglima Militer Angkatan Bersenjata Australia,Marsekal Binskin akan mengunjungi Indonesia dan bertemu dengan Gatot serta Kepala Staf Angkatan Darat(KASAD)。

“Dia akan datang sebagai perwakilan Pemerintah Australia untuk meminta maaf sambil menyampaikan hasil investigasi,”ujar Gatot yang ditemui di Gedung DPR / MPR Senayan usai menggelar Rapat Dengar Pendapat(RDP)dengan Komisi I pada Kamis,26 Januari。

Gatot belum mengetahui apa hasil investigasinya,karena hingga saat ini masih terus berjalan。 Sementara,terkait apakah kerjasama pendidikan dan pelatihan Bahasa Indonesia bagi kalangan militer Australia akan kembali dilanjutkan,Gatot mengatakan hal itu tergantung dari hasil investigasi yang akan disampaikan oleh militer Australia。

“Harapan saya sesuai dengan keinginan kita semua,adanya penjelasan bahwa apa yang sudah saya laporkan itu benar atau tidak。 Mereka sebelumnya juga sudah meminta maaf dan mengevaluasi kurikulum(pengajarannya),“tutur Gatot。

Dia pun menjelaskan,bahwa pembentukan kurikulum tidak melalui proses diskusi di antara militer kedua negara。 Menurutnya,kurikulum yang diajarkan di Akademi Militer di Barak Campebll sudah dibentuk,sehingga instruktur Kopassus tinggal mengajar saja。

“Begitu juga ketika ada militer negara lain belajar di sini,maka saya tidak akan membuat kurikulum dengan negara lain,”kata dia。

Materi kurikulum ini menjadi perhatian Gatot usai menerima laporan dari instruktur Kopassus yang dikirimkan oleh TNI secara khusus untuk mengajar di Perth。 Dia menemukan adanya materi pengajaran yang menyinggung berbagai hal yang sensitif seperti personil TNI yang dulu bertugas di Timor Leste dan Papua yang seharusnya merdeka dari Indonesia。

Belum lagi,instruktur Kopassus itu juga menemukan adanya materi dasar negara Pancasila yang diplesetkan menjadi Pancagila。

“Terlalu menyakitkan。 Ini sudah tidak benar,“kata Gatot yang ditemui di Bidakara,Jakarta Selatan pada Kamis,5 Januari。 (BACA: )

Lantaran Australia merupakan mitra strategis Indonesia di kawasan Asia Pasifik,maka keputusan yang diambil harus tetap terukur namun tegas。 Itu sebabnya,TNI hanya menangguhkan sementara pendidikan dan pelatihan pengajaran Bahasa Indonesia di sana。

Bagi sebagian pihak di Australia,keputusan yang ditempuh Gatot itu dianggap berlebihan。 Namun,pengamat hubungan internasional dari CSIS,Evan Laksamana menganggap keberatan itu dianggap sebagai hal yang wajar dan sah-sah saja。

Bagi Evan,penting bagi kedua negara untuk sama-sama saling memahami bagaimana penerimaan satu sama lain。

“Pihak-pihak yang mengatakan sikap Indonesia berlebihan ini bukan menyampaikan posisi resmi Pemerintah Australia.Sebab,mereka sudah menyatakan akan menindaklanjuti itu secara serius dan melakukan investigasi,”ujar Evan kepada Rappler pada Kamis malam,5 Januari。(BACA: )

Keputusan TNI itu juga diapresiasi oleh Presiden Joko“Jokowi”Widodo dan Komisi I DPR。 Jokowi menyampaikan bahwa keputusan TNI menangguhkan sementara kerja sama itu tidak berpengaruh terhadap hubungan baik antara Indonesia dengan Australia。 - Rappler.com